Rabu, 18 April 2012

AQIDAH ISLAM TENTANG PARA MALAIKAT


DAFTAR ISI
KATA PENGNTAR............................................................................................i
DAFTAR ISI......................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................1
  1. LATAR BELAKANG MASALAH...........................................................1
  2. RUMUSAN MASALAH.........................................................................1
  3. TUJUAN.................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN....................................................................................3
            AQIDAH ISLAM TENTANG PARA MALAIKAT................................3
  1. MALAIKAT SEBAGAI MAKHLUK ROHANI......................................4
  2. KODRAT DAN FUNGSI MALAIKAT...................................................5
  3. JIN, SETAN, DAN IBLIS BUKAN MALAIKAT....................................8
BAB III PENUTUP...........................................................................................12
  1. KESIMPULAN......................................................................................12
  2. SARAN..................................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA

 
BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG MASALAH
            Semua makhluk ciptaan Allah SWT. dapat dibagi kepada dua macam, yaitu: makhluk yang gaib (al ghaib) dan makhluk yang nyata (as syahadah). Yang bisa membedakan keduanya adalah pancaindera manusia. Segala sesuatu yang tidak bisa dijangkau oleh salah satu pancaindera manusia digolong­kan kepada al ghaib, sedangkan yang bisa dijangkau oleh salah satu pancaindera manusia digolongkan kepada as syahadah.
            Untuk mengetahui dan mengimani wujud makhluk gaib tersebut, seseorang dapat menempuh dua cara. Pertama, melalui berita atau infor­masi yang diberikan oleh sumber tertentu (bil-Akhbar). Kedua, melalui bukti bukti nyata yang menunjukkan makhluk gaib itu ada (bil atsar).
            Salah satu makhluk gaib Allah adalah malaikat. Allah menciptakan mahkluk-makhluk untuk menjalankan alam semesta ini. Di antara makhluk-makhluk Allah, ada yang diciptakan nyata (yaitu meliputi seluruh zat dan energi fisik, termasuk makhluk-makhluk biologis), dan ada yang diciptakan ghaib . Hukum fisik real berlaku untuk mahkhuk nyata, dan hukum ghaib berlaku untuk makhluk ghaib. Tidak banyak yang dapat diketahui manusia tentang keghaiban, kecuali yang diinformasikan Allah melalui Rasul dan kitab-Nya.
B.     RUMUSAN MASALAH
*      Menjelaskan malaikat sebagai makhluk rohani.
*      Menjelaskan kodrat dan fungsi malaikat.
*      Menjelaskan jin, setan, dan iblis bukan malaikat.


C.    TUJUAN
            Semoga setelah membaca dan merenungkan aqidah Islam tentang para malaikat, iman kita menjadi bertambah dan supaya lebih tertanam dalam hati kita, bahwa manusia tidak akan dibiarkan saja tanpa pertanggungjawaban, karena ada malaikat yang selalu mencatat amal perbuatan kita yang kelak kita akan ditanyai tentangnya.
BAB II
PEMBAHASAN
AQIDAH ISLAM TENTANG PARA MALAIKAT
            Orang yang beriman kepada malaikat akan semakin merasakan keagungan Allah dan merasakan rahmat-Nya. Sebab Allah telah mengamanahkan kepada para malaikat itu untuk mendo’akan orang-orang mukmin dan memintakan ampun untuknya.
            Penjagaan diri seseorang dari kemaksiatan juga akan semakin ketat manakala teringat bahwa para malaikat itu ada yang bertugas mencatat dan membukukan setiap apa yang diucapkan dan apa yang dikerjakan. Akan muncul pula sifat kepahlawanan dan keberanian untuk berjihad ketiika ia tahu bahwa di antara para malaikat itu ada yang bertugas memperkuat barisan mujahidin dengan perintah Allah SWT. Ia akan akan giat beramal agar bisa masuk surga dan mendapatkan salam sejahtera dari para malaikat. Sebaliknya ia akan menjauhi hal-hal yang menyebabkan masuk neraka agar tidak tergolong orang-orang yang dijelek-jelekkan oleh para malaikat itu.
            Nilai dan buah dari iman kepada para malaikat secara global adalah, berusaha menyerupai mereka dalam menjalankan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan (kedurhakaan) serta menguatkan sisi kemalaikatan dalam diri manusia. Maka untuk meyakini dan mengimani keber­adaan malaikat bisa ditempuh dengan dua cara.
            Pertama, melalui berita (akhbar) yang disampaikan oleh firman Allah dalam Al-Qur‘an maupun sabda Rasulullah SAW dalam Hadits. Banyak sekali ayat-ayat Al-Qur‘an dan hadits yang menjelaskan perihal malaikat. Karena kita mengimani kebenaran sumber (Al-Qur‘an dan Hadits), maka berita tentang malaikat pun kita imani adanya.
            Kedua, kita dapat mengetahui dan mengimani wujud malaikat melalui bukti-bukti nyata yang ada di alam semesta yang menunjukkan bahwa malaikat itu benar-benar ada. Misalnya, Malaikat Maut yang bertugas mencabut nyawa manusia, dapat dibuktikan secara nyata dengan adanya peristiwa kematian manusia. Demikian pula dengan keberadaan Malaikat Jibril, bisa dibukti­kan secara nyata dengan adanya Al-Qur‘an yang disampaikannya kepada Nabi Muhammad SAW.
A.    MALAIKAT SEBAGAI MAKHLUK ROHANI
            Iman kepada Malaikat merupakan rukun iman yang kedua setelah beriman kepada Allah SWT. hal ini dimaksudkan agar manusia memiliki keyakinan bahwa Allah SWT. mempunyai mahluk yang senantiasa patuh dan tidak pernah durhaka kepada-Nya, yakni malaikat, yang memiliki tugas pokok bertasbih kepada Allah SWT. Malaikat termasuk salah satu jenis mahluk yang gaib yaitu mahluk yang keberadaannya tidak dapat dibuktikan oleh panca indera manusia. Segala sesuatu yang bersifat gaib hanya boleh dipercaya bila bersumber dari Al Qur’an atau Hadis Nabi SAW.
            Menurut bahasa, kata “Malaikat” merupakan kata jamak yang berasal dari Arab malak (ملك) yang berarti kekuatan, yang berasal dari kata mashdar “al-alukah” yang berarti risalah atau misi, kemudian sang pembawa misi biasanya disebut dengan Ar-Rasul. Malaikat adalah makhluk Allah yang taat, diciptakan dari cahaya, mempunyai tugas khusus dari Allah SWT.
            Malaikat menurut istilah malaikat merupakan makhluk rohaniah yang bersifat gaib, diciptakan dari Nur (cahaya). Karena sifatnya gaib, malaikat tidak dapat didengar, dilihat atau diraba, namun, mereka diberi kekuasaan oleh Allah untuk dapat menjelma dalam bentuk lainnya yang dapat dilihat manusia.
            Adanya malaikat adalah pasti dan disebutkan dalam Al-Qur’an. Barang siapa mengingkari sesuatu yang diberitakan oleh Al-Qur’an mengenai mereka, maka ia telah kafir. Di antara berita dan sifat mereka yang disebutkan oleh Al-Qur’an adalah sebagai berikut :
1.      Mereka (para malaikat) diciptakan sebelum manusia. Allah memberitakan kepada kita tentang malaikat itu bahwa ketika Allah hendak cipatkan manusia.
2.      Mereka diciptakan untuk taat secara murni. Mereka juga tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan kepada mereka, dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan itu.
3.      Tatkala Allah telah selesai mencipta Adam, kemudian Dia mengajarkannya nama-nama[1] dan menguji para malaikat dengan menanyakan nama-nama itu. Para malaikat tidak dapat mengetahuinya sehingga Adam mengajarkan kepada mereka.
4.      Mereka sekali waktu menampakkan diri dari bentuk aslinya dan kadang pula dengan bentuk Bani Adam (manusia).
5.      Tempat persemayaman mereka adalah di langit. Mereka turun menuju bumi[2] dengan perintah Allah SWT.
6.      Mereka berkelas-kelas dan memiliki derajat masing-masing dalam hal asal penciptaan maupun kedudukan ubudiyahnya. Allah menjadikan mereka sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan). Mereka mempunyai sayap, masing-masing ada yang dua, tiga, dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendakinya-Nya.
7.      Di antara pekerjaan (tugas) mereka yang diberitakan oleh Al-Qur’an adalah bahwa mereka memperkuat kaum mukminin di medan perang.

B.     KODRAT DAN FUNGSI MALAIKAT
            Kita dapat melihat bahwa Allah menciptakan segala sesuatunya dengan derajat atau tingkat yang berbeda-beda. Allah menginginkan agar semua makhluk dari yang paling rendah sampai ke yang paling tinggi berpartisipasi dalam kebahagiaan yang dijanjikan oleh Allah.
            Dari sisi kodrat, maka sesungguhnya malaikat mempunyai kodrat lebih tinggi dibandingkan dengan kodrat manusia, karena malaikat diciptakan murni spiritual sedangkan manusia diciptakan dengan kodrat yang terdiri dari tubuh yang bersifat material dan jiwa yang bersifat spiritual. Ketinggian sesuatu yang bersifat spiritual dapat dilihat dari kekekalan dan kemampuan.
            Dari sisi kekekalan, maka sesuatu yang kekal lebih sempurna dibandingkan dengan sesuatu yang bersifat sementara. Dengan prinsip ini, maka kita melihat bahwa jiwa kita lebih utama tubuh kita, karena tubuh adalah sementara, sedangkan jiwa adalah kekal. Kalau kita terapkan pada malaikat dan manusia dengan prinsip ini, maka kita dapat mengatakan bahwa malaikat lebih tinggi derajatnya dari manusia, karena malaikat adalah murni spiritual sedangkan manusia terdiri dari material (tubuh) dan spiritual (jiwa).
            Dari sisi kemampuan, maka semakin sederhana (simple) sesuatu dalam spiritual, maka tingkatannya akan semakin tinggi. Karena manusia mempunyai jiwa dan tubuh, maka hal ini membuat manusia menjadi lebih kompleks dibandingkan malaikat. Sebagai contoh sederhana, malaikat tidak memerlukan organ otak untuk bertindak dengan benar. Sebaliknya, walaupun manusia mempunyai jiwa, namun kalau organ otaknya rusak, maka dia tidak dapat bertindak dengan benar.
            Fungsi dan macam-macam malaikat yaitu sebagai berikut :
v  Malaikat Jibril, disebut juga Ruhul Qudus atau Ruhul Amin. Ia merupakan penghulu para malaikat. Tugasnya menyampaikan wahyu dari Allah kepada para Nabi dan Rasul sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad SAW. Malaikat Jibril pula yang mengantar (mengawal) Nabi Muhammad SAW melakukan Isra’ Mi’raj.
v  Malaikat Mikail, bertugas dan menyampaikan rezeki kepada seluruh makhluk Allah, termasuk juga mengatur hujan, angin, dan bintang-bintang. Disamping itu, malaikat Mikail juga mendampingi Malaikat Jibril ketika membedah dada Nabi dan menyucikannya dengan air zam-zam.  Juga mendampingi Malaikat Jibril mengantar Nabi Muhammad SAW dalam Isra mi’raj.
v  Malaikat Israfil, tugasnya adalah menipu trompet atau sangkakala di saat manusia dibangkitkan dari kubur.
v  Malaikat Izrail, bertugas mencabut nyawa seluruh makhluk termasuk malaikat, manusia, jin, dan nyawanya sendiri. Maka dia juga disebut Malaikatul Maut.
v  Malaikat Raqib, tugasnya mencatat amal kebaikan yang dilakukan manusia sejak aqil baligh selama hidupnya.
v  Malaikat Atid, tugasnya mencatat amal kejahatan manusia selama hidupnya.
v  Malaikat Munkar, tugasnya menjaga alam kubur, sekaligus sebagai penanya kepada manusia di alam kubur.
v  Malaikat Nakir, tugasnya sama dengan malaikat munkar menanyakan manusia tentang 6 pokok permasalahan, yakni Tuhan, Agama, Nabi/Rasul, Kitab, Qiblat, dan teman (saudara).
v  Malaikat Malik, tugasnya menjaga pintu neraka tempat manusia menerima azab/siksa karena kedurhakaannya (kejahatannya).
v  Malaikat Ridwan, tugasnya menjaga pintu surga tempat hamba Allah menerima balasan dan ketakwaan.
            Dengan mengetahui 10 Malaikat tersebut di atas diharapkan bagi seorang Muslim untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga beriman kepada Malaikat tersebut minimal memiliki Fungsi antara lain :
©  Meningkatkan nilai dan martabat hidup manusia dengan bertambahnya pengetahuan inderawi terhadap makhluk yang materinya tidak tampak. Manusia yang meyakini adanya malaikat, maka tidak perlu memiliki perasaan takut pada saat berkumpul dengan orang lain maupun pada saat sendirian, sebab pada saat sendirian kemungkinan malaikat yang bersifat gaib ada disekitarnya.
©  Dalam menghadapi berbagai persoalan, manusia yang beriman kepada malaikat akan memiliki perasaan optimis. Perasaan tersebut timbul karena manusia yang beriman kepada malaikat meyakini dan mengetahui bahwa malaikat akan selalu membantu usaha manusia yang diijinkan dan diridhoi Allah.
©  Dalam kehidupan sehari-hari, manusia yang beriman kepada malaikat akan selalu berhati-hati. Hal tersebut karena manusia yang beriman kepada malaikat akan mengetahui adanya malaikat Atid dan Rokib yang bertugas mengawasi dan mencacat segala gerak-gerik dan amal perbuatan setiap manusia. Malaikat Atid mencatat gerak-gerik dan amal perbuatan yang baik, sedangkan malaikat Rokib mencatat yang jelak, Nabi SAW. bersabda:
Artinya : Sesungguhnya seorang hamba (yang meningggal) apabila telah diletakkan di dalam kubur dan para pengantarnya telah meninggalkannya, sesungguhnya ia akan mendengar derap sandal mereka. Kemudian datanglah dua Malaikat ( Munkar dan Nakir ) dan mendudukkannya, seraya bertanya kepadanya : “Bagaimana pendapatmu tentang orang ini ( Muhammad SAW.) ?. Apabila ia seorang mukmin maka akan menjawab : “ Saya bersaksi bahwa dia hamba Allah dan utusan-Nya “Kemudian dikatakannya kepadanya : “lihatlah tempatmu di neraka, sunggguh Allah telah menggantikannya buat kamu di sorga “Kemudian ia akan melihat kedua tempat itu semua (sorga dan neraka)” (HR. Bukhari dan Muslim)
C.    JIN, SETAN, DAN IBLIS BUKAN MALAIKAT
            Kalimat jin, setan, ataupun juga Iblis seringkali disebutkan dalam Al-Qur`an, bahkan mayoritas kita pun sudah tidak asing lagi mendengarnya. Sehingga eksistensinya sebagai makhluk Allah SWT. tidak lagi diragukan, berdasarkan Al-Qur`an dan As-Sunnah serta ijma’ ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah.
1.      Jin
            Al-jinnu berasal dari kata janna syai`un yajunnuhu yang bermakna satarahu (menutupi sesuatu). Maka segala sesuatu yang tertutup berarti tersembunyi. Jadi, jin itu disebut dengan jin karena keadaannya yang tersembunyi.
            Keberadaan jin merupakan hal yang tak dapat disangkal lagi mengingat pemberitaan dari para Nabi sudah sangat mutawatir dan diketahui orang banyak. Secara pasti, kaum jin adalah makhluk hidup, berakal dan mereka melakukan segala sesuatu dengan kehendak. Bahkan mereka dibebani perintah dan larangan, hanya saja mereka tidak memiliki sifat dan tabiat seperti yang ada pada manusia atau selainnya.[3]
            Jin lebih dahulu diciptakan daripada manusia sebagaimana dikabarkan Allah SWT. dalam firman-Nya:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا اْلإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُوْنٍ. وَالْجَانَّ خَلَقْنَاهُ مِنْ قَبْلُ مِنْ نَارِ السَّمُوْمِ
Artinya : Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (Q.S.Al-Hijr : 26-27)
            Jin berbeda jauh dengan malaikat. Karena jin dan malaikat serta manusia diciptakan dari unsur yang berbeda. Rasulullah SAW. bersabda :
خُلِقَتِ الْمَلاَئِكَةُ مِنْ نُوْرٍ وَخُلِقَتِ الْجَانُّ مِنْ مَّارِجٍ مِنْ نَارٍ وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ
Artinya : Para malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari apa yang disifatkan kepada kalian.” (HR. Muslim no. 2996 dari ’Aisyah radhiallahu ‘anha)
2.      Setan
            Setan atau Syaithan (شَيْطَانٌ) dalam bahasa Arab diambil dari kata (شَطَنَ) yang berarti jauh. Ada pula yang mengatakan bahwa itu dari kata (شَاطَ) yang berarti terbakar atau batal. Pendapat yang pertama lebih kuat menurut Ibnu Jarir dan Ibnu Katsir, sehingga kata Syaithan artinya yang jauh dari kebenaran atau dari rahmat Allah SWT.[4] Ibnu Jarir menyatakan, syaithan dalam bahasa Arab adalah setiap yang durhaka dari jin, manusia atau hewan, atau dari segala sesuatu.
            Demikianlah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِيْنَ اْلإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوْحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوْرًا
Artinya : Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu.” {Q.S.Al-An’am(6) : 112}
            Dalam ayat ini Allah menjadikan setan dari jenis manusia, seperti halnya setan dari jenis jin. Dan hanyalah setiap yang durhaka disebut setan, karena akhlak dan perbuatannya menyelisihi akhlak dan perbuatan makhluk yang sejenisnya, dan karena jauhnya dari kebaikan.[5]
            Dan yang menyebabkan adanya tafsiran mengenai setan dari hewan yaitu dari hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat Muslim:
الْكَلْبُ اْلأَسْوَدُ شَيْطَانٌ
Artinya : Anjing hitam adalah setan.” (HR. Muslim)
Ibnu Katsir menyatakan: “Maknanya –wallahu a’lam– yaitu setan dari jenis anjing.”[6]
            Setan adalah turunan Iblis, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
أَفَتَتَّخِذُوْنَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُوْنِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّالِمِيْنَ بَدَلاً
Artinya : Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang dzalim.” {Q.S.Al-Kahfi(18) : 50}
Turunan-turunan Iblis yang dimaksud dalam ayat ini adalah setan-setan.[7]
3.      Iblis
            Iblis adalah wazan dari fi’il, diambil dari asal kata al-iblaas yang bermakna at-tai`as (putus asa) dari rahmat Allah SWT. Mereka adalah musuh bagi manusia, musuh bagi Adam dan keturunannya. Dengan kesombongan dan analoginya yang rusak serta kedustaannya, mereka berani menentang perintah Allah SWT. saat mereka enggan untuk sujud kepada Adam.
            Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْلِيْسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِيْنَ
Artinya : Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam,’ maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Ia enggan dan takabur, dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.(Al-Baqarah: 34)
            Iblis berasal dari jenis jin. Ini adalah pendapat Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu. Beliau menyatakan: “Iblis tidak pernah menjadi golongan malaikat sekejap matapun sama sekali. Dan dia benar-benar asal-usul jin, sebagaimana Adam adalah asal-usul manusia.”[8]
            Pendapat ini didasarkan pada firman Allah SWT.
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْلِيْسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ
Artinya : Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam’, maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, lalu ia mendurhakai perintah Rabbnya.” {Q.S.Al-Kahfi(18) : 50}
            Allah menegaskan dalam ayat ini bahwa iblis dari jin, dan jin bukanlah malaikat. Ulama yang memegang pendapat ini menyatakan: “Ini adalah nash Al-Qur`an yang tegas dalam masalah yang diperselisihkan ini.” Beliau juga menyatakan: “Dan hujjah yang paling kuat dalam masalah ini adalah hujjah mereka yang berpendapat bahwa iblis bukan dari malaikat.”




BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
            Iman kepada Malaikat merupakan rukun iman yang kedua setelah beriman kepada Allah SWT. hal ini dimaksudkan agar manusia memiliki keyakinan bahwa Allah SWT. mempunyai mahluk yang senantiasa patuh dan tidak pernah durhaka kepada-Nya, yakni malaikat, yang memiliki tugas pokok bertasbih kepada Allah SWT. Malaikat termasuk salah satu jenis mahluk yang gaib yaitu mahluk yang keberadaannya tidak dapat dibuktikan oleh panca indera manusia. Segala sesuatu yang bersifat gaib hanya boleh dipercaya bila bersumber dari Al Qur’an atau Hadis Nabi SAW.
            Malaikat adalah makhluk ghaib yang diciptakan Allah dari cahaya, senantiasa menyembah Allah, tidak pernah mendurhakai perintah Allah serta senantiasa melakukan apa yang diperintahkan kepada mereka.

B.     SARAN
            Dalam penyajian makalah ini masih banyak kekurangan, baik dari segi materi maupun bahasa atau tulisan yang salah dalam penyampaian makalah kami. Maka kami harapkan sekalian saran yang bersifat membangun untuk para penulis, karena materi ini masih jauh dari yang diharapkan.



[1] Allah tidak menjelaskan nama-nama itu, tapi yang jelas itu adalah nama-nama malaikat dan nama segala sesuatu yang ada saat itu. Dan Dia tidak menjelaskan bahasa yang digunakan. Wallahu A’alam, barangkali Allah memberi kemampuan kepada Nabi Adam a.s. untuk membuat nama.
[2] Jika untuk sampai pada suatu bintang dibutuhkan waktu satu miliar tahun cahaya, padahal yang namanya langit itu tidak hanya terbatas pada bintang itu namun masih ke sana lagi, dengan kecepatan apakah mereka turun dari langit itu menuju bumi? Akal kita tidak akan mampu menggambarkan kecepatan ini.
[3] Idhahu Ad-Dilalah fi ’Umumi Ar-Risalah hal. 1, lihat Majmu’ul Fatawa, 19/9
[4] Al-Misbahul Munir, hal. 313
[5] Tafsir Ibnu Jarir, jilis 1, hal. 49
[6] Tafsir Ibnu Katsir, jilid 2, hal. 173
[7] Tafsir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 453
[8] Diriwayatkan Ibnu Jarir dalam tafsir surat Al-Kahfi ayat 50, dan dishahihkan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya



DAFTAR PUSTAKA

Ali Thanthawi, Syaikh, Aqidah Islam, Doktrin, dan Filosofi, cetakan pertama. Solo: ERA INTERMEDIA. 2004.
Al-Banna, Hasan, Majmu'atu ar-Rasail, Muassasah al-Risalah Beirut.
al-Jazairy, Abu Bakar Jabir, Aqidah al-Mukmin, Maktabah Kulliyat. Al-azhariyah. Cairo. 1978.
Ilyas , Yunahar, ”Lc Kuliah Aqidah Islam", LPPI ,Yogyakarta. 1992
http://muka-aneh.blogspot.com/2009/10/nama-nama-malaikat-dan-tugasnya-islam.html



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar